Kenapa saya terjun ke Bisnis

Dulu, sejak lulus kuliah Juni 2004, bercita-cita ingin kerja diperusahaan bonafit, punya karir cemerlang, kerja pake blazer, sepatu hak tinggi, di gedung perkantoran yang mewah. Alhamdulillah doaku diijabah sama Allah, pertama kali bekerja Oktober 2004, di salah satu Bank Asing terkenal, di daerah perkantoran bergengsi di Jakarta, tiap hari pakai blazer, sepatu hak tinggi. Meskipun kenyataan saya hanya di gaji 900.000 saja waktu itu. Masih bersyukur karena saya tidak menunggu lama-lama lagi mendapatkan pekerjaan. Waktu itu status saya meskipun lulusan Sarjana Komputer, tapi saya bekerja sebagai Admin. Saya rasa tidak apa-apa jadi pengalaman saya bekerja, nikmati sajalah. Sampai suatu ketika kegelisahan mulai muncul, antara kerja dan salary tidak seimbang. Manusia yang tidak pernah puas, saya mulai mengirim lamaran lagi. Gak perlu nunggu lama, Alhamdulillah saya di terima di salah satu Distributor Nokia terkenal di Indonesia sebagai programmer. Bangga donk tentu, bekerja sesuai dengan bidang keahlian. Alhamdulillah salary bisa 2x dan tidak musti pulang larut malam seperti di kantor sebelumnya. Disini saya berkomitmen kalau saya akan serius di perusahaan ini dan akan meraih jenjang karir seperti yang saya impikan.

Waktu berjalan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dan ketika usia saya menginjak umur 26 tahun kemudian menikah lalu punya anak. Drastis 180 derajat keinginan untuk menjadi wanita karir harus pupus. Oleh karena naluri ibu yang sudah tidak lagi mementingkan karir tapi lebih mementingkan kuantitas waktu untuk buah hati yang saat itu butuh perhatian, butuh ASI exclusive yang tidak saya berikan karena ASI saya tidak keluar lagi sejak kembali masuk bekerja setelah 3 bulan cuti melahirkan. Sedih sekali rasanya, tidak berada dekatnya ketika dia sakit, ketika dia mulai bisa makan makanan padat untuk pertama kalinya, ketika pekerjaan menjadi prioritas dibanding anak. Cuti tidak enak, bolos apalagi. Disaat kegalauan itu hadir, muncul ide untuk memulai berbisnis.

Di akhir tahun 2007, setelah sekitar 6 bulan usia Nazma anak saya. Saya mulai googling, mencari barang-barang yang bisa dipasarkan, mencoba membuat online shop dimulai dari memasarkan lewat Multiply, Blogspot, WordPress gratisan lalu mencoba untuk membuat web sendiri, sampai akhirnya punya toko online sendiri bernama AleezaShop. Berawal dari jualan aksesoris Bali seperti kalung, gelang, sendal, dll yang saya dapat dari teman sekantor. Kemudian mencoba memulai modal 500.000 untuk membeli jilbab di Pasar Tanah Abang kemudian saya jual di kantor dan Alhamdulillah laku habis. Naikin modal lagi untuk coba beli pakaian muslim dewasa di Pasar Cipulir. Alhamdulillah laris manis, dan pelanggan pertama saya itu dari Aceh yang langsung pesan hingga jutaan. Wah rasanya bagaimana ya, perdana jualan langsung bagus responnya. Sampai akhirnya punya pelanggan dari Sabang sampai Merauke. Lama-lama koleksi baju muslim dan jilbab saya semakin bertambah. Namun persaingan bisnis online mulai merajalela. Sudah banyak bermunculan online shop dengan produk sejenis. Harus kreatif dan punya harga yang lebih murah agar online shop saya laris manis.

Gak mau lama-lama terpuruk, saya mulai memberanikan diri untuk mencoba menjual via offline karena toko online saya sudah mulai sepi. Ya didekat rumah saya kebetulan ada pasar kaget yang tiap minggu lumayan ramai. Saya coba hubungi pengurus disana dan Alhamdulillah dapat tempat. Dari gak punya tenda, sampai punya tenda. Maklum makin siang makin panas dan kalau hujan repot harus kemas-kemas barang dagangan. Motor ini adalah saksi sejarah saya memulai merintis bisnis. Mengantarkan saya kemanapun, mengangkat barang puluhan kilo, Alhamdulillah semua saya lakukan demi bisa resign.

lapak regency

punya tenda

Suprafit saksi sejarah awal merintis bisnis

Di sini status saya masih jadi karyawan, karena bisnis ini tidak menggangu aktifitas saya sebagai karyawan. Saya lakukan ini di hari sabtu dan minggu. Saya belum berani menanggalkan status ngantor menjadi mompreneur, karena hasilnya belum sebanding dengan gaji kantor. Eh tapi lihat, meskipun waktu itu saya memang menjual barang-barang orang lain entah sudah tangan keberapa saya beli dari mereka, saya juga menjadi membernya Oriflame d’BC Network sejak tahun 2009 karena ajakan sahabat kuliah saya. Tapi, waktu itu saya belum memprioritaskannya sebagai bisnis utama saya. Karena waktu itu saya berfikir, untungnya pun belum berasa, lebih baik jualan yang untungnya langsung bisa saya nikmati. Lama-lama kok lumayan agak menguras tenaga juga waktu berjualan offline seperti ini. Untung yang didapatpun belum terlalu banyak, waktu terbuang lumayan dari jam 6 pagi hingga kadang sore hari. Pelanggan biasanya ramai kalau habis gajian tapi lepas gajian hanya segelintir orang saja yang beli. Sementara tiap minggu barang dagangan harus selalu update modelnya, sedangkan modal belum banyak terkumpul karena sudah jadi barang semua. Hufft, gak bisa lama-lama juga begini, kapan saya bisa resign klo gitu?!

Saya yang terus puter otak demi bisa resign, putar haluan lagi. Ya, saya harus fokus lagi sama Orilame d’BC Network yang sempat saya kesampingkan. Pola pikir saya lama-lama sudah mulai klik sama bisnis ini. Sering ikut training, sering bertukar ide dengan upline. Lama-lama pola pikir saya berubah dah mulai jatuh cinta sama bisnsi ini. Inilah bisnis sebenarnya. Dimana saya tidak perlu repot-repot pergi ke kulakan bawa motor pulang bawa gembolan barang dagangan, belum lagi foto-foto barangnya, upload ke web, melayani customer sendiri, bungkus paket sendiri, huaaah all in one deh pokoknya. Energi habis untuk mengurus hal-hal seperti itu yang seharusnya dilakukan oleh staf saya sendiri. Tapi apa daya saya belum mampu dan belum ada dana lebih untuk menggaji seorang karyawan karena keterbatasan modal.

Di Oriflame semuanya menjadi mudah. Saya tidak perlu stok barang, semua kebutuhan saya gunakan untuk kebutuhan keluarga kadang ada orderan juga, gak perlu foto-foto barang semua sudah lengkap di webnya Oriflame. Gak perlu kurir untuk packing barang semua Oriflame yang atur kita tinggal tunggu dirumah. Alhamdulillah semuanya begitu mudah. Yang paling penting, pendapatan saya disini jauh lebih kerasa dibanding bisnis konvensional yang saya jalani sebelumnya. Dibawah ini grafik perbandingan bisnis Oriflame dengan Gaji kantoran saya dulu. Kenapa hanya 2 parameter itu yang saya bandingkan? Karena grafik Oriflame bisa melebihin grafik kantoran saya dulu. Yang membuat saya tercengang, kenapa saya tidak fokus saja dari dulu disini ya.

Slide4Slide5

Hampir 8 tahun saya bekerja sebagai karyawan, kenaikannya paling 8-10% saja per tahunnya, sedangkan saya merintis bisnis ini, menjadi bos buat diri saya sendiri, mengerjakan Oriflame baru 3 tahun tapi fokus di 1 tahun terakhir karena keterpepetan saya yang ingin segera resign membawa saya melewati garis grafik kantoran. Disini siapapun yang berusaha naiknya gak tanggung-tanggung bisa lebih dari 100%.

Alhamdulillah, makin memantapkan hati saya untuk resign, sudah tidak sabar rasanya ingin segera bersama dengan anak saya setiap hari. Makin serius dan fokus saya mengerjakan bisnis ini. Pada saat saya menapaki level Senior Manager dimana penghasilan saya sudah melebihi gaji kantoran. Yes, ini waktunya saya mengajukan surat pengunduran diri yang saya tunggu-tunggu. Per Februari 2012 saya resign dengan level baru di Oriflame sebagai Director. Dan makin optimis saya terus bisa menapaki satu persatu jenjang level di Oriflame.

Memulai bisnis itu tidak perlu tunggu bakat dulu asal ada niat yang kuat juga kemauan, lakukanlah dan jangan tunda. Jangan takut untuk memulai, karena dengan memulai kita jadi tahu bahwa kita mampu atau tidak. Gagal suatu hal yang biasa, dengan gagal kita bisa banyak belajar. Nikmati prosesnya, optimis sukses akan datang menghampiri kita.

Finally, I’m work from home now! GO DIAMOND!

Salam dari Mantan Bunda Kantoran
Ratna Intan Mutiarasari
PIN : 293999F9 | www.pastisuks3s.com

No related posts.

About Ratna Intan

Hi saya Ratna Intan, seorang ibu rumah tangga, mantan karyawati Swasta 8 tahun bekerja memilih resign karena ingin selalu berada dekat dengan buah hati. Menurut saya rezeki itu bisa datang darimana saja, dari rumah pun masih bisa menghasilkan. Terbukti saat ini saya sudah memiliki penghasilan 16-17jt/bln dari berbisnis d'BCN Oriflame. Impian saya adalah ingin membahagiakan orang-orang tercinta dan juga orang lain yang membutuhkan.

Speak Your Mind

*